Keutamaan Bulan Muharram Dan Keistimewaan Hari ‘Asyuro (10 Muharram)

Almaas
Shodaqoh
August 23, 2019
Almaas Griya Insani Muslim Surabaya Dakwah Sosial
Ngaji Dan Baksos Almaas Bersama Komunitas Mancing Sehat Peduli Anak-Anak Yatim Di Pantai Pelabuhan Sepuluh Madura
September 11, 2019
Almaas Griya Insani Muslim Surabaya Dakwah Sosial

Almaas Griya Insani Muslim Surabaya Dakwah Sosial

Keutamaan Bulan Muharram Dan Keistimewaan Hari ‘Asyuro (10 Muharram)

almaas.co.id – Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyyah/Qamariyah. Di mana tahun Islam yang dihitung ketika awal pertama kali Nabi SAW hijrah ke Madinah. Di zaman dahulu sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW bulan ini bukanlah dinamakan bulan Al-Muharram, tetapi dinamakan bulan Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan Shafar dinamakan Shafar Ats-Tsani. Setelah datangnya Islam, kemudian Bulan ini dinamakan Al-Muharram yang artinya diharamkan/pantangan. Penamaan Muharram disebabkan karena pada bulan ini dilarang berperang. Larangan tersebut berlaku sampai masa awal Islam.

Allah SWT berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu”. (QS At-Taubah : 36)

Bulan Muharram atau bulan Suro (jawa) memiliki sejarah penting bagi perjalanan Islam di dunia, terutama pada tanggal 10 Muharram atau yang biasa disebut hari ‘Asyura. Al-Hafizh Ibnu Nashir al-Din al-Dimasyqi dalam bukunya Majmu’ fihi Rasail menyebutkan 3 peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Muharram.

Pertama, Allah menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir bandang dan keluar dari kapalnya di atas gunung Judi setelah bumi ditenggelamkan selama 5 bulan. Para pakar sejarah meyakini bahwa banjir bandang tersebut melanda seluruh negeri yang ada di permukaan bumi. Dengan adanya banjir itu, semua orang kafir tenggelam sehingga Allah tidak menyisakan satu orang kafir pun di muka bumi.

Adapun panjang kapal Nabi Nuh menurut informasi dari Ibnu Jarir al-Thabari adalah 1200 hasta (540 meter) dan lebarnya 600 hasta (270 meter). Kapal itu dibuat 3 lantai. Lantai pertama untuk hewan ternak dan binatang buas. Lantai dua untuk manusia, dan lantai tiga untuk macam-macam burung.

Sementara menurut Ibnu Abbas, Nabi Nuh berada di kapal itu bersama 80 orang dengan keluarganya masing-masing. Mereka berada di kapal selama 150 hari. Allah mengarahkan kapal itu ke Makkah lalu kapal tersebut berputar-putar mengelilingi Baitullah selama 40 hari. Allah kemudian mengarahkan kapal itu berlabuh di bukit Judi.

Nabi Nuh dan para pengikutnya mulai naik ke kapal pada hari kesepuluh di bulan Rajab dan berlayar mengarungi air bah selama 150 hari hingga akhirnya kapal itu berlabuh di bukit Judi selama satu bulan. Mereka keluar dari kapal pada tanggal 10 Muharram.

Kedua, Allah selamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari tentara Fir’aun dan Allah menenggelamkan Fir’aun bersama tentara-tentaranya di laut merah. Menurut keterangan dari Ibnu Katsir yang mengutip pendapat beberapa mufassir menjelaskan bahwa Fir’aun berada di tengah-tengah pasukan berkudanya yang berjumlah 100.000 kuda jantan berwarna hitam. Adapun jumlah keseluruhan pasukan yang menyertainya 1.600.000 orang. Sementara jumlah Bani Israil yang dikejar tentara Fir’aun berjumlah 600.000 orang.

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, pada hari itu (10 Muharram) Nabi Musa yang diikuti Bani Israil menjalani puasa. Sebagaimana diceritakan Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW pernah berjalan melewati orang-orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari Asyura, lalu Nabi bertanya, “Puasa apa kalian?”.

Mereka menjawab,

هُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka.” Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga.” (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu.” (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Ketiga, Husain, cucu Nabi saw. terbunuh di Karbala oleh para penghianat Kuffah, pasukan Yazid bin Mu’awiyah. Para pembunuh tersebut di antaranya bernama Syamir bin Dzi al-Jausyan, Husain bin Numair, Zur’ah bin Syarik al-Tamimi, Khauli bin Sa’ad al-Asbahi, Sinan bin Anas, dan Mahfaz bin Tsa’labah. Peristiwa terbunuhnya Husain di Karbala terjadi pada Jum’at, 10 Muharram 61 H (10 Oktober 680 M) dalam usia 58 tahun.

Al-Thabarani dalam bukunya Maqtal Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib mengisahkan bahwa suatu ketika, Husain bin Ali masuk ke kamar Nabi yang ketika itu sedang menerima wahyu. Lalu Husain meloncat ke atas pundak Nabi dan bermain-main di atas punggung beliau. Maka kemudian Jibril bertanya, “Wahai Muhammad, apa engkau mencintainya?”. Nabi pun menjawab, “Wahai Jibril, bagaimana aku tidak mencintai cucuku?”. Jibril lantas berkata kembali, “Sesungguhnya, setelah kamu wafat nanti umatmu akan membunuhnya.”

Jibril kemudian mengambil tanah berwarna putih dan memberikannya kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Muhammad, di tanah inilah cucumu akan dibunuh. Tanah itu namanya Thaf (Karbala).” Ketika Jibril sudah pergi, Nabi Muhammad keluar dengan membawa tanah itu sambil berkata, “Wahai ‘Aisyah, Jibril memberitahu aku bahwa Husain, cucuku akan dibunuh di tanah Thaf dan sesungguhnya setelah kepergianku nanti, umatku akan menghadapi fitnah.”

Setelah itu, Nabi keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya yang kebetulan hari itu sedang berkumpul, di antaranya Ali, Abu Bakar, Umar, Hudzaifah, Ammar, dan Abu Dzar sambil menangis. Mereka pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkanmu menangis?”. Beliau menjawab, “Jibril memberitahu aku bahwa setelah aku pergi nanti cucuku Husain akan dibunuh di tanah Thaf. Dia membawa tanah ini dan memberitahu aku bahwa tanah ini nantinya akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuknya”.

Dari ketiga peristiwa besar diatas, kita akhirnya menjadi tahu bahwa hari Asyura (10 Muharram) merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Dan mari kita mengisinya dengan amal ibadah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu :

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim, No: 1977)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram.” (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram. Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه مسلم وأبو داود)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah. Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluaran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah SWT.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلى عِيَالِهِ وَ أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan Ad-Dinul Islam. Mari kita jadikan refleksi bagi kita untuk Hijrah, melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yaitu mengajak melakukan kebaikan/ibadah dan menjauhi kejelekan/yang dilarang sesuai ajaran Islam yang diperintahkan Allah SWT melalui Rasulnya Muhammad SAW.

Wa Allahu A’lam bis Shawab

almaas.co.id ddikelola oleh jaringan penulis, tim editor dan tim IT BatuBeling. Mari turut berkontribusi dan berdonasi dalam berbagai kegiatan dakwah, sosial, dan usaha kami. Selengkapnya klik www.almaas.co.id dan chat di nomor whatsapp kami.

Jazaakumullaahu Khoiron Katsiiroo

ALMAAS
ALMAAS
Griya Insani Muslim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CS 1
CS 2
× DAFTAR ONLINE